menu Menu
Sinyal dari Pilihan Cawapres
Menurut Kang apa yang harus dilakukan Jokowi pada periode ke dua yang bisa dilihat dari pilihan Cawapres yang ia jatuhkan ke siapa ?
By admin Naftali Edoway Posted in Demokratia, Our Voice on August 8, 2018 0 Comments 6 min read
Noken, Ikat, dan Wainai Previous Baku Pukul Next

#Sinyal dari Pilihan Cawapres
Noken, Ikat dan Wainai

Kujemput kau seperti raja, tulang belakang patah-patah. Beristirahat di kamar mewah, agar kelak tak beristri jahat. Engkau manusia beruntung, Nueng Kampret, manusia kolot, sombong wajah, badai baiduri, tara tau ukur diri.

Bertemu guru, hendaklah kita merendah. Bertemu pimpinan, hendaklah kita merebah. Menghadap Tuhan, pejamkan mata, tapi jangan berlama, tak bisa kembali. Laporlah sesuai perbuatan, sebab Ia maha tahu. Tanpa mereka, kuranglah iman dan ilmu. Hidup balau, linglung dan bingun. Tak bisa mendapat upah belas kasihan.

Kearifan lokal adalah wajah Indonesia, harapan Pancasila. Filosofi negeri ini tak pernah melarang sistem noken atau ikat. Hari ini gunung ikat Enembe, ya itu kearifan lokal, wajah Pancasila sila kelima; Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Demokrasi telah mengubah tanpa wakil. Cukup bendera partai dan wakil kampung; ambil serangan fajar, suara murni diikat ditengah jalan, tak mungkin mengecewakan rakyatnya.

Hanya mereka bertanya: kenapa dua orang maju, Bupati dan Wakil, tapi setelah terpilih, cuma bupati saja yang nampak bijaksana. Kemana keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia? Jakarta hendaknya menghapus wakil, sebab wakil bupati ada empat dalam pemerintahan; Sekda, As 1, As 2, As 3 plus “iye wido” alias om sopir yang biasa cuci Bupati punya otak dari dalam mobil.

Memilih pemimpin gunakan kearifan lokal, Indonesia tak akan rugi. Justru akan lebih memperkuat ideologi Pancasila yang telah dirusak sendiri oleh rupiah, dan kepentingan. Semau que, keangkuhan jakarta, telah membuat rakyat bosan. Satu biji jakarta goreng-goreng sekian ribu rakyat di daerah. Hendaknya putusan Mahkamah Konstitusi diserahkan ke tarian “Wainai”. Tak ada bahasan setelah Wainai. Dan kelas wainai, bukan lagi ukuran MK, justru melebihi arbitase atau ia justru menjadi petisi yang tak diakui united nation.

Jika DPRD terbitkan sistem joken dan ikat, lalu, putusan rekapitulasi KPUD ditetapkan dalam bentuk arbitase Wainai? Cukup anda lepaskan hp ditangan dan bertepuk ria pertanda tak perlu bayar bayar MK untuk menangkan seseorang.
Oleh Abdul MunibNoken, Ikat dan Wainai

Kujemput kau seperti raja, tulang belakang patah-patah. Beristirahat di kamar mewah, agar kelak tak beristri jahat. Engkau manusia beruntung, Nueng Kampret, manusia kolot, sombong wajah, badai baiduri, tara tau ukur diri.

Bertemu guru, hendaklah kita merendah. Bertemu pimpinan, hendaklah kita merebah. Menghadap Tuhan, pejamkan mata, tapi jangan berlama, tak bisa kembali. Laporlah sesuai perbuatan, sebab Ia maha tahu. Tanpa mereka, kuranglah iman dan ilmu. Hidup balau, linglung dan bingun. Tak bisa mendapat upah belas kasihan.

Kearifan lokal adalah wajah Indonesia, harapan Pancasila. Filosofi negeri ini tak pernah melarang sistem noken atau ikat. Hari ini gunung ikat Enembe, ya itu kearifan lokal, wajah Pancasila sila kelima; Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Demokrasi telah mengubah tanpa wakil. Cukup bendera partai dan wakil kampung; ambil serangan fajar, suara murni diikat ditengah jalan, tak mungkin mengecewakan rakyatnya.

Hanya mereka bertanya: kenapa dua orang maju, Bupati dan Wakil, tapi setelah terpilih, cuma bupati saja yang nampak bijaksana. Kemana keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia? Jakarta hendaknya menghapus wakil, sebab wakil bupati ada empat dalam pemerintahan; Sekda, As 1, As 2, As 3 plus “iye wido” alias om sopir yang biasa cuci Bupati punya otak dari dalam mobil.

Memilih pemimpin gunakan kearifan lokal, Indonesia tak akan rugi. Justru akan lebih memperkuat ideologi Pancasila yang telah dirusak sendiri oleh rupiah, dan kepentingan. Semau que, keangkuhan jakarta, telah membuat rakyat bosan. Satu biji jakarta goreng-goreng sekian ribu rakyat di daerah. Hendaknya putusan Mahkamah Konstitusi diserahkan ke tarian “Wainai”. Tak ada bahasan setelah Wainai. Dan kelas wainai, bukan lagi ukuran MK, justru melebihi arbitase atau ia justru menjadi petisi yang tak diakui united nation.

Jika DPRD terbitkan sistem joken dan ikat, lalu, putusan rekapitulasi KPUD ditetapkan dalam bentuk arbitase Wainai? Cukup anda lepaskan hp ditangan dan bertepuk ria pertanda tak perlu bayar bayar MK untuk menangkan seseorang.

Baik Cawapres Jokowi maupun Cawapres Prabowo, sama-sama memiliki sinyal yang mengisyaratkan nilai untuk disimak oleh rakyat. Prabowo dihadapkan kepada dua pilihan. Pertama memilih ‘nilai keumatan’ dan kedua nilai nasionalis. Hal ini untuk menurunkan intensitas kemelekatannya dengan PKS, menghindari pandangan masyarakat bahwa dia juga ikut mendukung teroris. Ini penting untuk masa depan Gerindera yang integral.

Dari posisinya di urgutan tiga, Gerindera memilki peluang cemerlang ke depan untuk merebut urutan ke dua atau bahkan ke satu di Senayan. Namun ini harus dengan merubah narasi dengan narasi nasionalis yang dituangkan dalam konsep blue print yang kuat untuk Indonesia ke depan. Indonesia Raya yang terkonsepsi oleh pemikiran kokoh. Disini letak seninya politik sebagai ilmu pengetahuan. Jangan dengan jalan pintas sepertii Demokrat dulu di Senayan yang hanya jaya semusim bunga mawar. Modus HTI nya PKS sudah terbaca rakyat, dan Gerindera akan ikut madesu jika tidak mengganti narasi. Tentu masa depan suram itu bisa dihindari dengan kembali ke jalur logika, tentu jangan dilupakan juga jalur logistik.

Pilihan Jokowi pada capresnya, juga mengisyaratkan bidang apa yang akan jadi penekanannya di periode ke dua. Misalnya nilai membenahi kerangka sistem yang lebih baik. Tentu banyak perundang-undangan yang perlu direvisi dan diselaraskan dengan nilai Pancasila. Pilihan adalah pemilih.

Kalau langkah Prabowo pada memilih nilai ‘keumatan’ dengan Cawapres UAS atau Salim Seqaf, Jokowi cenderung akan memakai Cawapes pemecah suara seperti poros Al Azhar yakni TGB atau Buya Safii Ma’arif. Kalau Prabowo dengan AHY, Jokowi akan melangkah melompat yakni Cawapres Mahfud MD untuk tugas khusus membenahi sistem perundang-undangan yang lebih bernafas Pancasila.

Kalau hanya untuk tujuan menang Jokowi jelas tidak perlu susah payah. Cukup dengan jurus mempertahankan suara yang ada sudah cukup. Tapi politik bukan soal mememenangkan kontestasi lalu duduk berkuasa. Sikap asal menang hanya dilakukan oleh orang yang mengambil keuntungan dari berkuasa.
Politik hikmat seluruh langkahnya memiliki arti, dalam membangun kontruksi Indonesia lebih baik yang rasional dan runut. Karena siapa seseorang bisa dilihat dari pilihan-pilihannya. Biar ini jadi pelajaran politik yang akan disimak rakyat.

Santri Kalong : Menurut Kang apa yang harus dilakukan Jokowi pada periode ke dua yang bisa dilihat dari pilihan Cawapres yang ia jatuhkan ke siapa ?

Kang Mat : Seandainya aturan memungkinkan Jokowi akan tetap memilih JK. Politisi gaek ini memiliki koneksi paling baik. Dan dia banyak berubah, semakin negarawan. Walau pun warna saudagarnya tetap ada, itukan karena beliau memang pedagang. Jokowi akan menyelesaikan sisa infrastruktur, jalan, pelabuhan, bandara, bendungan dan penguatan ketahanan pangan. Lalu ia akan perbaiki sistem kekuasaan yang lebih pro rakyat. Bersama NU dan tak ketinggalan Muhammadiyah. ia akan memperkuat gerakan budaya khususnya ketahanan ekonomi untuk ketahanan nasional.

Santri Kalong : Blue Print nya Jokowi di periode ke dua gambarannya seperti apa?

Kang Mat : Ekonomi yang kokoh dengan meningkatkan produksi dalam negeri dan mengurangi intensitas import secara gradual. Tentu jika Indonesia tidak gaduh terus. Kalau gaduh energi akan terkuras untuk upaya stabilitas. Rakyat saatnya satu kata membangun Indonesia. Islam yang menerima Pancasila. Dengan demikian bangsa besar ini bisa kokoh, dihormati oleh sesama bangsa di dunia.

Santri Kalong : Termasuk kalau nanti wakil yang dipilih adalah Moeldoko ?

Kang Mat : Ya, Moeldoko prajurit hebat. Dari melihat rahang mukanya saja kesan pertama adalah Indonesia kokoh. Jiwa Jenderal Sudirman ada padanya. Jenderal yang hidup sederhana. Karakter yang sama dengan Jokowi.

Komunitas Filsafat Pancasila

Facebook Comment


Previous Next

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment

keyboard_arrow_up