menu Menu
Baku Pukul
Bahasa berkelahi kalau untuk ukuran Indonesia Timur itu sangat sopan. Teman-teman disana biasa bilang Bakupukul, Baku Injak, baku hajar. Lebih seru.
By admin Posted in Abdul Munib on August 8, 2018 0 Comments 4 min read
Sinyal dari Pilihan Cawapres Previous Anggukan Nusantara dan Kotek Antek Next

#Bakupukul

Oleh: Abdul Munib

Bung Cebong : Kampret ribut plintir soal perkataan Presiden : Junjung tinggi perdamaian dan persaudaraan. Tapi kalau ada yang ajak berkelahi ya harus berani. Kampret mau mengulang kesuksesan Modus Pulau Pramuka ?

Kang Mat : Bahasa berkelahi kalau untuk ukuran Indonesia Timur itu sangat sopan. Teman-teman disana biasa bilang Bakupukul, Baku Injak, baku hajar. Lebih seru.

Bung Cebong : Apa hikmat yang bisa dipetik dari bahasa berkelahi itu ?

Kang Mat : Tidak usah anggap serius, plintir atau framing itu sebagai jurus dan modus kampret. Anggap saja mampunya memang cuma itu. Ada yang lebih penting dari makna berkelahi yang sesunghuhnya. Hakikat yang sebenarnya kita sedang terus berkelahi di sedikitnya delapan matra pertempuran. Itu yang disebut berkelahi atau perang asimetris. Ini berlangsung tiap detik dan di semua matra.

Bung Cebong : Perang asimetris itu saya pernah dengar, tapi itu maksudnya yang bagaimana kang ?

Kang Mat : Makanya Bong kau juga harus sering ngaji, supaya jangan modal nekat saja. Perang asimetris itu bukan sebatas perang infanteri yang dua kubu tentara saling baku tembak. Perang asimetris itu selain di matra geografi atau wilayah, demografi atau penduduk dan sumber daya alam, juga merambah di matra ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya. Bakupukul jenis ini berlangsung setiap detik di jaman sekarang ini. Contohnya di sepuluh tahun SBY presiden, dia menghutang paling banyak dari semua presiden yang pernah ada, 2 ribu trilyun lebih. Itu kita kalah di perang finansial. Karena sampai sekarang kita masih harus terus membayar sekaligus bunga nya yang tinggi. Jokowi baru ngutang 300 saja infrastruktur oke tidak mangkrak. Contoh lain Pancasila mau diganti khilafah, ini perang asimetris bidang ideologi.

Bung Cebong : Jadi kita harus bagaimana Kang ?

Kang Mat : Ya harus seperti yang Presiden bilang kemarin, harus berani berkelahi kalau ditantang apalagi mau bubarin Pancasila. Berkelahi paling berat itu di ranah ideologi. Di ranah ini prajuritnya masih terbatas. Karena yang akan hancur terakhir dari sebuah bangsa adalah ideologinya. Kenapa Banser Riyanto rela mati memeluk bom menyelamatkan jemaat satu gereja di Mojokerto? Karena Ideologi Pancasila. Kenapa Bangsa Kurdi sekarang negaranya terhapus dari peta dunia, padahal dulu punya pahlawan besar Salahudin Al Ayubi atau Saladin. Apa yang dikenang orang dari pribadi besarnya ? Ia membawa sendiri buah-buahan segar ke kemah musuhnya yang sedang sakit Si Richad Berhati Singa. Di Indonesia selalu tersedia orang seperti Cak Durasim, penyair besar Indonesia dengan frasa : Tali duk tali layangan, awak situk ilang-ilangan. Jiwanya jadi tebusan Ibu Pertiwi. Definisi TNI di Indonesia tak sama dengan Amerika. Definisi TNI disini adalah pertahanan rakyat yang dilembagakan dalam negara. Artinya yang tak dilembagakan berupa kekuatan rakyat semesta banyak, itu yang dibangkitkan Jenderal Sudirman saat Maguwo Jokja di serang Belanda. Musuh Indonesia sangat tahu itu. Kesan pertama ketika kita pikir Banser adalah gelut atau tawuran. Selain ada juga pengamanan pengajian, hajatan, jaga gereja, atur parkir acara. Itu semua negara tidak belikan seragam mereka, makanya di koperasi NU banyak catatan cicilan seragam Banser yang belum lunas. Kalau harus bayar pakai APBN lha jumlahnya puluhan kali lipat dari jumlah TNI. Yang beginian negara lain gak punya. Pasukan khusus Amerika disuruh latihan gabungan dengan Kopassus kita mau, suruh latgab dengan Banser nggak mau. Nembaknya ke arah mata kaki kenanya mata kepala.

Bung Cebong : Jadi gak salah kemarin ucapan Pak Presiden ?

Kang Mat : Pada seluruh peperangannya, Nabi Muhammad tak satu pun yang dia memulai duluan. Bahasa kita nya : kamu jual saya beli. Tapi waktu di Mekah, karena kekuatan kaum mukminin masih kecil Nabi tidak paksakan perang. Kira-kira begitulah Jokowi siap bakupukul karena sudah yakin Banser ada di belakangnya. Kalau dia ucapkan itu saat ia walikota Solo ya kurang pas. Kata ‘berkelahi’ itu paling-paling bisikan dari Banser, sengaja untuk bikin gara kejantanan kampret. Untuk ukuran orang Solo memang kata berkelahi itu agak jauh untuk diucapkan. Tapi sekarang kan kondisinya lain. Ideologi negara sedang terancam. Tabiat PKI sekarang munculnya di kaum kampret. Tabiat burung Kedasih, lihat di yutub.

Komunitas Filsafat Pancasila

Facebook Comment


Previous Next

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment

keyboard_arrow_up