menu Menu
Pengalaman Menjadi Satpam di Jakarta
By admin Posted in Eden Research, News, Our Voice on August 18, 2018 0 Comments 5 min read
Pesan Melawan Lupa: Previous Mahfud MD,  Usul Naik Motor Sendiri-Sendiri Next

Surtaji: Di Umur 73 Tahun, Saya Masih Semangat Menjadi Satpam

Oleh Engelbertus P Degey

Di Jakarta, 1999-2003 pernah saya menjadi Satpam di rumah makan Chang, jalan raya Gajah Mada 64,  berhadapan dengan hotel Furama Mangga Besar. Bos saya,  Jhon Tirto,  orang China.

Karyawan ada 7 orang. Budi, wakil bos, juru tulis, Wandy,  penyiap bumbu Yeti dan dua orang cowo, tukang masak asal Sunda. Lupa nama,  satu kurus dan satunya lagi gempal. Om Ramos, dari Flores setiap hari berhubungan dengan surat-surat bersama Wandy. Dulunya Satpam.

Sebelum saya bertugas,  bos buka Warung di Grandfill, Kedoya. Ujung perumahan elit. Namun karena masalah lokasi, bos pindah ke pusat hiburan Jakarta pusat. Disana harus dijaga oleh Bodyguard, maka ketemulah saya untuk menjaga Restoran itu. Setiap hari ramai, karena katanya, kuah Restoran Chang mengingatkan kampung halaman di China. Gurih dan sedap rasanya. Sebagai karyawan, kami pun dapat jatah, siang dan malam. Tugas saya, atur mobil depan, hitung berapa orang yang turun dari mobil, lalu telepon via radio, agar tukang bumbu bisa mengukur takaran.

Sebagai pengawal Restoran,  bos Jhon bawa saya ke Koramil. Disana, saya dikasih sebuah pistol dan radio transistor. Tapi apa yang terjadi? Saya menolak ambil pistol dan hanya ambil radio. Komandan berkata: “dik, tempat yang kamu kerja, membutuhkan barang ini, bawahlah. Kami sudah siapkan surat-surat dan tidak perlu ragu.”

Tapi saya tolak. Saya bilang, pistol itu sama dengan uang seribu. Bila kuisi, kubawa kemana-mana, nanti dia akan menuntut untuk dipakai. Berkali dipaksa,  juga oleh bos, saya tetap tolak. Pisau pun saya tolak. Waktu pulang,  bos terdiam saja dan tak lama kemudian berkata, benar juga ya, bila kita bawa bawa sesuatu, dia akan menuntut untuk dipakai. Apalagi barang tajam. Lebih bagus jangan bawa-bawa alat tajam tapi bawa Tuhan saja. Bila ada masalah, barulah telepon pihak berwajib.

Saya bilang bos,  untuk bawa alat tajam, harus dilatih mental dan juga fisik minimal enam bulan.

Disebelah Restoran, Gajah Mada 63 adalah los hiburan. Sering anak-anak Papua nongol disitu. Kakak Mechu Imbiri, seniman tanah Papua itu selalu mampir dan kami kenal seperti adik kakak. Bila jam makan, saya ajak beliau makan gratis.

Tidak jauh dari tempat kerja, sekitar 100 meter ke utara, ada Tokoh Buku Gramedia. Dikastau warga. Sayapun bila sunyi, sempatkan diri ke situ. Ada dua buku yang kudapatkan disana: “Kondisi Historis Sufisme Persia Selama Periode Seljuk” dan buku “Catatan Komparatif Tentang Sanai’i dan Attar”. Kedua-duanya tentang Warisan Sufi. Tulisan tulisan berbentuk Wahyu dari tokoh-tokoh Islam. Didalam kedua buku ini saya menemukan kata “Hadiqah Al-Haqiqah” dari moyang Iraq dan kata “Pairidaeza” dari Yunani Kuno. Kedua kata ini melengkapi penelitian saya tentang taman Eden yang bertembok kebenaran dan berpagar.

“Tuhan terima kasih, ternyata Engkau tempatkan saya sebagai satpam, supaya saya bisa dapatkan dua kata ini”.

Memang,  penulisan buku  “Taman Firdaus” tak satupun yang mengetahuinya. Entah ulama, tokoh agama, maupun buku-buku ilmiah. Kecuali suara-suara sufi atau nabi tentang suatu pandangan mereka terhadap oase yang berkebenaran dan bertembok di negeri yang tak mampu dikatakan, “Erhata Remata”. Puaslah hatiku.

Tempat yang kami kerja, ada tiga lantai. Namun lantai dua dan tiga tak bisa dipakai. Ada energi lain selalu menghadiri dua lantai ini. Malam sebelum kami pulang, sering kami rasakan kehadiran orang berjalan kaki atau bersuara di lantai atas. Sering teman-teman suruh saya naik cek kondisi. Sayapun pura-pura memberanikan diri, padahal panakut. Pimpinan kami, berkali-kali datangkan paranormal untuk pindahkan energi-energi itu, namun, mereka berkata, tempat ini susah, karena sejak jaman dulu sudah menjadi tempat transit. Tidak sampai dua bulan, kamipun pindah ke lokasi baru, tepatnya dibelakang Glodok, sebelum gedung  Fatahilah.

Beberapa bulan lalu, ke Jakarta, saya singgah di tempat yang dulu saya kerja, Gajah Mada 64. Namun tempat itu masih tertutup,  tidak pernah dibuka. Warga disitu mengatakan,  sudah lama tempat ini tak dipakai lagi. Saya hanya mengangguk dan sudah tahu  alasan kenapa tempat ini tak dipakai lagi.

Saya juga menyeberang kesebelah cek teman saya, Surtaji, Satpam juga. Kerja di hotel Furama ala Jepang. Umurnya sekarang 73 tahun,  rombeng, tetapi tetap semangat. Bosnya, pemilik 27 Hotel di Jakarta dan beberapa kota besar. Dia bercerita  banyak soal tamu-tamu yang datang ke hotelnya. Katanya, ada yang dari dalam negeri maupun luar. Bahkan pada saat acara acara besar, mereka pakai dinas lengkap hadir. Kadang hampir takecing lihat bintang dan pangkat mereka menjaga negeri ini.

Dirinya sudah minta pensiun, kasih naik bendera, beberapa kali jatuh, tali tidak kuat dan benderah jatuh. Mungkin tanda alam untuk saya undur, tapi pimpinan berkata, kalau kamu dirumah, nanti cepat tua. Yah, begitu sudah. Saya masih awet dan semangat menjaga tempat ini, dengan jabatan satpam.

Saya hanya menguatkan hatinya dengan berkata: “Tugas satpam adalah tugas mulia. Setiap hari memastikan dan menjaga keamanan bagi semua yang berkunjung. Tetapi memalukan bila para petinggi kita menjadi Satpam di negeri ini selama bertahun-tahun untuk tolong jaga para pencuri datang mengambil tambang emas, nikel dan batu bara dipinggir rumah kita sendiri. Lebih baik menjadi satpam di tempat kecil ini,  dari pada menjadi satpam tambang sementara rakyat asli menderita, karyawan tambang asli Indonesia dipecat tanpa alasan yang jelas”.

Surtaji hanya heran-heran.

Engelbertus P. Degey. Seniman dan Budayawan, Peneliti Taman Eden yang hilang.

Facebook Comment


Previous Next

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment

keyboard_arrow_up