menu Menu
Bukan yang ini Tapi itu
Abraham pun terperangah, keringatan. Kenapa bisa begini. Iapun melepaskan pisau dan menyuruh anaknya lepaskan tali Domba (yang sudah diikat malaikat). Dan Tuhan pun yakin, Abraham benar-benar menyembah Tuhan, dan ia dinamai Bapak Bangsa-Bangsa. Keturunannya diberkati.
By admin Posted in Historia, Our Voice on August 25, 2018 0 Comments 4 min read
Jangan Melihat Sebatas Jokowinya Previous Enembe Sudah Tau Pembangunan Infrastruktur yang Dilakukan SBY dan Jokowi Next

“Bukan yang Ini Tapi Itu”

Oleh Engelbertus P Degey

Dua hari ini umat Muslim rayakan hari besarnya, dinamai Idhul Adha. Dalam bahasa Arab, Iduladha (: عيد الأضحى) adalah sebuah hari raya kurban, yaitu ketika Nabi Ibrahim bersedia mengorbankan putranya untuk Allah, kemudian sembelihan itu digantikan oleh-Nya dengan domba.

Dalam sejarah taurat Kristen pun sama, disebut nabi Abraham kurbankan anaknya, tetapi malaikat gantikan dengan domba. Islam dan Kristen moyangnya sama. Adik kakak kandung. Lalu kemudian bermusuhan setelah agama mulai dilembagakan dan manusia mulai membuat negara. Mulai kacau lagi ketika para pemuka agama mulai kompanye cari umat / massa / pengikut dan berlomba mengejar siapa yang paling benar.

Seandainya (jaman sekarang) umat manusia dibiarkan untuk mencari kebenaran sendiri-sendiri, bebas mempelajari ajaran Yudais, Budhis, Hindu, Muslim, Kristian, Zionis, Jawa, Jepang dan lain seterusnya, maka akan muncul pribadi-pribadi yang tidak egois dan tidak fanatis, berpengetahuan luas, mampu membedakan umum dan khusus, baik dan buruk, indah dan jelek, wajar atau tidak sekaligus akan memantapkan iman di masing-masing keyakinan dan akan bertemu sosok yang pernah menolak melayani manusia sebagai khalifah di bumi. Termasuk sosok yang mengajarkan jalan kebenaran dan hidup.

Idhul Adha adalah sebuah peristiwa ujian iman dari Allah, apakah Ibrahim benar-benar setia pada Tuhan atau tidak.

Lalu, mengapa Tuhan mau menguji nabi Abraham?

Jawabannya ada beberapa. Sebelum peristiwa Ibrahim (kl 5000 sm), Allah sudah menguji Nabi Adam dan Nabi Nuh. Adam tak tahan uji lalu kemudian diampuni. Nuh, orang tak tercela itu tahan uji, selamat dari cercaan dan cemoohan manusia-manusia raksasa (neanderthal), selamatkan manusia dan binatang berpasang-pasangan dalam peristiwa air bah. Diantaranya termasuk sanak saudara yang terlanjur kawin dengan manusia turunan raksasa (purba) lalu kemudian bangun menara Babel. Salah satu turunan manusia raksasa itu bernama Goliat. Dengan demikian Tuhan mau menguji, apakah benar Abraham sembah dan setia pada Allah atau tidak.

Jawaban kedua, karena, pada jaman-jaman Adam, Nuh dan Ibrahim, rakyat Babilonia jaman itu tak percaya akan cahaya Tuhan itu. Mereka lebih percaya sama Dewa Marduk, Apsu, Tiamat, Ea dalam mithos Enuma Elis. Dengan demikian Allah mau menguji, apakah benar Abraham sembah dan setia pada Tuhan Allah atau dewi-dewi seperti keluarga-keluarga lain di daratan Gihon, Pison itu.

Jawaban berikut, selain bangsa Babilonia, bangsa-bangsa lain didunia pun sama sekali tak mengenal adanya Tuhan Allah. Bangsa-bangsa lain juga menyembah dewa-dewi. Di Yunani, disembah Erebus, Uranus dll. Hindu dengan Rig Veda. Di Jepang dengan kisah Izanagi dan Izanami. Di China Yin dan Yan. Suku Aztec dengan Ometeotl. Mesir kuno dengan tokoh Atum dan Atem, Persia Kuno dengan dewa Ahura Mazda, dan bangsa Norwegia dengan kisah Ymir dan Odin.

Terkecuali moyang bangsa Papua, mengakui bumi ini diciptakan oleh Tuhan Allah. Orang Mee menyebut Ugatamee, pencipta. Amung dengan istilah Unggakame, pencipta. Manseren Ronanggi oleh bangsa Biak untuk pencipta, Tuhan Allah sendiri. Orang Migani menyebut Aiga Zonawi atau penguasa bumi.

Lebih jauh kebawah, moyang Papua hanya tahu Tuhan Allah itu penuh cahaya, Pupu Papa dan sumber kehidupan. Hanya saja moyang kita pernah mengusir cahaya itu dan yang menerima Tuhan dengan sepenuh hati cuma Adam, Nuh, Abraham, Musa dan seterusnya. Dengan demikian Allah menguji berkali-kali sebab dalam turunannya akan muncul bintang Daud, Sang Kebenaran Abadi yang akan mengalahkan Dadjal, bermata satu itu.

Abraham atau Nabi Ibrahim yang setia itu diuji. Ia serta merta membawa anaknya ke gunung. Membawa kayu bakar dan sebilah pisau. Dalam hati Abraham, dia akan menyanggupi permintaan Tuhan. Setelah panggung bakaran sudah siap, iapun menyuruh anaknya itu menghadap tungku api itu. Sssst, sekilat, malaikat sudah pegang tangan Abraham.

“Bukan ini Bram, tetapi yang itu”, ujar malaikat sambil pegang erat tangan Abraham yang hendak tebas anak kesayangannya untuk kurbankan bagi Tuhan. Malaikat menunjuk domba yang tidak tau datang dari arah mana.

Abraham pun terperangah, keringatan. Kenapa bisa begini. Iapun melepaskan pisau dan menyuruh anaknya lepaskan tali Domba (yang sudah diikat malaikat). Dan Tuhan pun yakin, Abraham benar-benar menyembah Tuhan, dan ia dinamai Bapak Bangsa-Bangsa. Keturunannya diberkati.

Itulah pemimpin, banyak kali dicobai, diuji, dan bahkan sampai korban. Tetapi karena loyal, taat, setia dan disiplin, maka kepercayaanpun ada bagi dirinya.

Terkadang sudah kerja ini, tetapi oleh orang lain, bukan ini, tapi itu. Kita kerja itu, oleh orang lain bukan itu tapi ini. Disinilah iman seorang pemimpin diuji sambil mempersiapkan langkah-langkah strategis untuk memperbaiki dan memperbaiki. Sebab manusia adalah insan yang lemah, labil, dibentuk dari tanah yang lembek, bukan dari cahaya api seperti para malaikat.

Facebook Comment


Previous Next

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment

keyboard_arrow_up