menu Menu
Empat Pertanyaan Mengenai Allah
Saya telah mendapatkan puluhan jawaban dari berbagai sumber, terutama sumber tertulis (Alkitab dan buku lainnya) dan sumber lisan (terutama dari para theolog).
By admin Posted in Kolom, Religion on December 4, 2018 0 Comments 2 min read
Yesus dan Natal (Selamat Advent) Previous Mengapa Pak Yoman Tidak Takut Menulis Buku dan Artikel Melawan Indonesia? Next

EMPAT PERTANYAAN MENGENAI ALLAH

Sebagai orang yang beragama Katolik yang mengimani keberadaan Allah, sejak lama saya sering merenungkan empat pertanyaan ini: Dimana Allah berada? Dimana Allah disembah? Kapan Allah disembah? Bagaimana Allah disembah?

Saya telah mendapatkan puluhan jawaban dari berbagai sumber, terutama sumber tertulis (Alkitab dan buku lainnya) dan sumber lisan (terutama dari para theolog). Kebanyakan jawabannya sama, yang intinya bersifat tekstual (sebagaimana tertulis dalam Alkitab) dan tradisi gereja (yang dalam sejarah Kitab Perjanjian Lama telah ada sejak kepercayaan Monoteisme-nya Abraham dan dalam sejarah Kitab Perjanjian Baru telah ada sejak zaman Para Rasul) . Setelah itu, beberapa orang meminta saya untuk “percaya saja” (seolah-olah saya adalah robot yang didesain khusus untuk mengikuti keinginan tuannya).

Karena saya bukan tipe manusia yang dapat diperintah untuk “percaya saja” dan karena akal saya adalah anugerah Allah untuk berpikir rasional (tanpa meninggalkan keimanan), maka tanpa harus “percaya saja”, saya berusaha mencari jawaban lain dari jawaban klasik yang ada selama ini.

Dimana Allah berada? Jelas Allah berada di surga. Dimanakah letak surga? Jawabannya tidak seorang pun tahu, orang hanya menduga-duga saja. Sekalipun surga adalah suatu tempat, tetapi pemilik tempatnya, Allah, tidak hanya “tanam pantat” di surga. Ia sesungguhnya berada dimana-dimana.

Dimana Allah disembah? Jawaban klasiknya adalah rumah ibadah (terutama gereja). Karena gereja diimani sebagai “rumah Allah”, dimana Ia “selalu ada” disana. Padahal karena Allah berada dimana-mana, maka sesungguhnya Ia bisa disembah dimana saja.

Kapan Allah disembah? Jawaban klasiknya adalah saat beribadah formal, karena saat itu Allah diimani hadir. Padahal karena Allah ada dimana-mana setiap saat, maka Ia dapat disembah (atau manusia dapat berkomunikasi dengan-Nya melalui doa atau cara lainnya) kapan saja tanpa dibatasi oleh waktu, tanpa menunggu waktu ibadah formal.

Bagaimana Allah disembah? Biasanya Allah disembah sesuai dengan tradisi liturgi masing-masing gereja. Dan kadang cara beribadah yang menyimpang dari tradisi liturgi yang ada dianggap “melanggar”, bahkan dianggap “dosa”. Padahal cara menyembah Allah berbagai variasinya, tergantung mau menyembah dengan cara bagaimana, asal tidak menyimpang dari kepantasan sesuai dangan etika dan norma yang ada.

Inilah ringkasan jawaban atas empat pertanyaan yang telah saya renungkan selama ini. Saya sadar jawaban-jawaban ini menyimpang dari jawaban-jawaban klasik yang telah ada dan diimani selama ini. Tetapi saya berprinsip, saya tidak mau menjadi orang Katolik “percaya saja”, melainkan menjadi orang Katolik yang cerdas memanfaatkan akal yang diberikan oleh Allah untuk mengetahui dan memahami Allah dari sekedar pengetahun dan pemahaman klasik yang ada selama ini, tanpa mengorbankan iman saya.

(Dumupa Odiyaipai)

Facebook Comment


Previous Next

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment

keyboard_arrow_up