menu Menu
Mengapa Pak Yoman Tidak Takut Menulis Buku dan Artikel Melawan Indonesia?
By admin Posted in Socrates Yoman on December 4, 2018 0 Comments 3 min read
Empat Pertanyaan Mengenai Allah Previous Pisang Terbesar di Dunia, Ditemukan di Arfak Sorong Next

Oleh Dr. Socratez S.Yoman

1. Pendahuluan

“Ketakutan kami untuk mengatakan kebenaranlah yang meyebabkan selama bertahun-tahun memberi kesempatan dan kekuatan bagi para penindas yang menindas kami” (Ibu Shirin Ebadi, perempuan Iran, Penerima Nobel Perdamaian).

Penulis mengawali mengutip keyakinan Ibu Shirin karena keyakinannya sama juga dengan keyakinan penulis.

Pertanyaan dalam topik ini disampaikan oleh beberapa teman kepada penulis. Bahkan ada yang sarankan kepada penulis untuk menggantikan nomor Hand Phone (HP) penulis, karena setiap penulis menelepon disadap Negara. Pertanyaan dan saran itu baik untuk kebaikan penulis.

1.1. Penulis tidak melawan Indonesia

Penulis tidak melawan Indonesia. Penulis tidak senang dan tidak suka dan tidak setuju dengan umat Tuhan di West Papua direndahkan martabat mereka dengan stigma separatis, makar, OPM dan KKSB dan mitos-mitos kejam yang lain. Apalagi dengan kejamnya disuruh pergi ke Melanesia dari Tanah Leluhur mereka.

Seperti  Luhut B. Panjaitan menyatakan kepada bangsa West Papua pemilik Negeri ini:

“Ya, pergi saja ke Melanesia sana, jangan tinggal di Indonesia lagi” (2016).

Heran juga, pikiran yang terbalik dan hati yang terbalik. Menyuruh orang keluar atau pergi dari dalam rumah mereka sendiri. Cara-cara tidak beradab dan tidak manusiawi seperti ini yang penulis luruskan melalui buku dan artikel-artikel.

Penulis tidak setuju dan  tidak  terima pemerintah memusnahkan (genocide) penduduk asli West Papua atas nama keamanan nasional dan kepentingan NKRI. Penulis marah karena tanah penduduk asli West Papua dirampok dan diserahkan kepada transmigrasi. Penulis tidak senang karena penduduk asli West Papua disingkirkan/dimarjinalkan dari tanah leluhur mereka.

Penulis tidak senang karena rakyat   West Papua dibuat tidak punya masa depan  di atas Tanah Leluhur mereka.  Kejahatan ini yang dilawan.

1.2. Iblis juga perlu dengar dan sadap telepon penulis

Penulis sebagai Gembala tidak mungkin berbicara yang merugikan orang. Itu sudah pasti. Penulis juga orang yang sudah Sekolah dan tentu berbicara yang tidak merusak sesama.

Dalam posisi ini, penulis tidak ada masalah telepon penulis disadap atau tidak. Jangankan manusia, biarlah Iblis pun boleh menyadap setiap telepon dan komunikasi penulis. Setiap saat Iblis mendengarkan setiap suara kebenaran, suara keadilan dan martabat manusia yang dikomunikasikan, secara bertahap Iblis mengerti, sadar dan bertobat. Akhirnya, kita tutup pintu Neraka, dan tinggal Pintu Kerajaan Surga dan Kebenaran.

2.  Hampir 100% Salah Takut Kepada Penjajah/Pendatang.

Penulis sangat heran dan lucu, bila penulis takut kepada orang-orang pendatang (Indonesia Melayu). West Papua ialah tanah milik penulis. Penulis ahli waris yang sah dan resmi. Pendatang, Indonesia tidak perlu ditakuti. Orang-orang Indonesia punya Tanah leluhur. Orang-orang Indonesia tidak punya dusun, tanah, hutan, sungai di atas Tanah ini.  Mereka datang menduduki dan menjajah bangsa West Papua.

Penjajah dan kolonial dan penjahat dan perampok tidak perlu ditakuti. Mereka harus diajar dan dididik dengan pendidikan dan pengajaran yang benar melalui buku dan artikel.

Para pendatang tidak tahu malu dan tidak tahu terima kasih karena kami ijinkan mereka tinggal dan hidup dan memperbaiki taraf kehidupan ekonomi mereka. Mereka tidak ada hak mengaku ini tanah mereka.

2.1. Keadaan aman dan tidak aman kami tetap ada di sini

Pada suatu ketika jika terjadi kekacauan dan kelaparan, kami tetap berdiri di sini. Sedangkan orang-orang Indonesia akan kembali ke Negeri dan tanah leluhur mereka. Orang-orang Indonesia/pendatang akan datang kembali ke West Papua setelah keadaan sudah aman dan juga tidak ada kelaparan lagi.

2.2. Penulis 100% tidak takut

Penulis 100% tidak takut karena penulis pemilik Negeri dan sudah SEKOLAH dan TAHU.

Waa…

IWP, 26102018;10:54AM

Facebook Comment


Previous Next

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment

keyboard_arrow_up